Profil Blogger

Assalamu'alaykum Wr. Wb.
Namaku Yusuf Haidar Ali . Sekarang menempuh semester 2 jurusan geofisika di Akademi Meteorologi dan Geofisika Jakarta. Asal Kediri ( Blitar ). :D
Blog ini sebenernya aku buat untuk berkompetisi dengan temanku. Dan akhirnya aku yang menang :D
Setelah kompetisi itu blog ini aku dedikasikan untuk pengetahuan khususnya di bidang geofisika. 
Seperti kata Emil Wiechert (1861-1928)

"Ferne Kunde bringt Dir der schwankende Boden - deute die Zeichen." 

Ilmu ini luas kawan. So explore it. But don't destroy the environment.

Untuk rencana kedepannya saya akan meneruskan ke jenjang yang saya anggap saya mampu melampauinya. 

Kalau rencana untuk berkeluarga. Saya tipe orang yang tidak suka menunda - nunda. So , kalau udah ada calonnya ya dicepetin aja. Mohon do'anya aja ya

Wassalamu'alaykum Wr. Wb.


DIM ( Declination Inclination Magnetometer )


DI Magnetometer adalah alat yang dapat mengukur nilai sudut deklinasi dan inklinasi geomagnetik. Karena nilai-nilainya yang hampir sama,  diperlukan magnetometer dengan ketelitian tinggi. Alatnya terdiri dari sebuah theodolite non-magnetik dan flukgate sensor yang diletakan diatas telescope, sehingga sumbu pembacaan optik dan magnetik menjadi paralel. Fluxgate magnetometer yang digabungkan pada theodolite non-magnetik bertujuan untuk membuat pengukuran yang presisi dan teliti dari deklinasi dan inklinasi. Ini menggunakan kalibrasi dari kompas atau mengkalibrasi secara periodik (berkala) variometer yang mencatat medan magnet secara terus menerus di observatorium magnet dalam pengamatan magnetik. Variometer adalah alat untuk mengukur besar dan arah medan magnet. Sudut yang mana dibaca oleh Fluxgate magnetometer Elektronik adalah nilai yang minimum, dibandingkan dengan melihat melewati lensa theodolite. Utara sesungguhnya dideterminasikan dengan melihat target refrensi utara sesungguhnya dari jarak yang jauh, atau yang berasal dari perhitungan navigasi planet dari penglihatan Matahari atau dari bintang yang lain. Parameter yang didapat dari pengkuran Deklinasi dan Inklinasi dinyatakan dalam derajat : satu putaran horisontal dan vertikal  = 360o 00’ 00”
Sebagai contoh instrumen MinGeo 010 dan 020 D/I yang berdasarkan Theodolite lensa  Zeiss THEO 010 dan 020 yang telah dikonversikan menjadi instrumen yang non-magnetik. Setelah melewati test yang sangat detail terhadap lensa dan magnetik, disusun inti linear fluxgate magnetometer model G ( dari Institut Meteorologi Danish ) pada teleskop dan menyetel sumbu magnetiknya menjadi paralell terhadap sumbu optik. Instrumen ini dilengkapi battery dan charger yang cocok untuk pengamatan dan pengukuran di lapangan.

Pengoperasian Alat
            Pengoperasian DIM ini yaitu Tripod di pasangkan di Pilar/titik pengamatan, kemudian theodolit diletakkan diatasnya. Digitizer fluxgate di hubungkan dengan sensor fluxgate yang ada di theodolit.
Observer harus bebas dari noise selama melakukan pengukuran Deklinasi dan Inklinasi, yaitu :
-          Tidak boleh membawa HP
-         Tidak boleh membawa bahan-bahan logam (ikat pinggang, uang logam, dll)
-          Tidak boleh menggunakan kacamata berbahan logam
-          Titik pengukuran harus jauh dari noise
-          Dll

Pengambilan data Deklinasi dan Inklinasi
1)        Theodolit diletakkan pada titik pengukuran
2)        Theodilit di levelkan dengan mengatur 3 kakinya
3)        Ukur Titik Tetap (misal: kubah masjid) (TT awal), dengan cara :
ü  Bidik TT awal posisi sensor atas (biasa) hasil pembacaan ditulis dalam kolom CR1.
ü  Bidik TT awal posisi sensor bawah (luar biasa) hasil pembacaan ditulis dalam kolom CL1. 
4)        Hubungkan kabel sensor dengan digital fluxgate magnetometer
5)        Levelkan (datarkan) sensor dengan cara menjadikan skala vertikal pada skala 90 00 00 dengan teropong menghadap ke arah barat kemudian klem (kunci) skala vertikalnya
6)        Mengukur Deklinasi. Teropong diarahkan ke Barat dan sensor berada diatas  ( Up ) Buka klem skala horisontal, putar sampai angka pada digital menunjukkan 0,00…, kemudian kunci skala horisontalnya dan baca skalanya. Pada saat menunjukkan angka 0,00…, catat waktunya. Hasil pembacaan ditulis pada kolom WU.
7)        Buka kunci skala vertikalnya, kemudian teropong diputar dan sensor diarahkan kearah Timur dengan posisi sensor dibawah (Down), kemudian levelkan (datarkan) sensor dengan melihat skala vertikal menunjukkan angka 270 00 00. kunci lagi.lihat angka digitalnya apabila masih menunjukkan angka 0,00…, catat waktunya dan baca skala horisontalnya, hasil pembacaan ditulis dalam kolom ED.
8)        Sensor masih berada dibawah (Down) dan tetap kunci skala vertikalnya. Buka kunci horisontalnya, kemudian putar sampai sensor menghadap ke arah Barat dan angka digitalnya menunjukkan angka 0,00…. Kemudian kunci dan catat waktunya serta baca skala horisontalnya. hasil pembacaan ditulis dalam kolom WD.
9)        Skala horisontalnya tetap dikunci, buka kunci skala vertikalnya kemudian putar teropong kearah Timur dengan posisi sensor berada diatas (Up). Levelkan sensor dengan cara putar skala vertikalnya sampai menunjukkan angka 90 00 00. kemudian kunci. Lihat digitalnya angka  harus menunjukkan 0,00…., catat waktunya dan baca skala horisontalnya. hasil pembacaan ditulis dalam kolom  EU.
10)    Hitung rata-rata (Mean) hasil pengukuran Barat dan Timur (WU, ED, WD, EU). Untuk skala derajat dipakai skala yang terkecil.
11)    Mengukur Inklinasi. Buka kunci horisontal dan vertikalnya. Putar horisontal Theodolite dengan posisi Sensor diatas (Up) dan skala pada posisi horisontal.  Tentukan bacaan skala horisontalnya sampai menunjukkan nilai (mean – 90 00 00) kemudian kunci.
12)    Buka kunci vertikalnya dan gerakan teropong sampai angka
13)    Skala horisontal tetap posisi terkunci. Buka kunci vertikalnya putar teropong sampai sensor berada dibawa (down) dan sampai angka digital menunjukkan 0,00…, kunci dan baca skala vertikalnya. Lihat posisi Circle nya, apa dibarat (west) atau di timur (east), jangan sampai terbalik pada penulisan datanya.
14)    Buka kunci horisontal dan vertikal. Putar theodolit secara horisontal sampai pada skala hasil penjumlahan meridian ditambah 180 00 00. kemudian skala horisontalnya dikunci. Sensor masih berada dibawah (down).buka skala vertikal, gerakkan teropong sampai angka digital 0,00… dan kunci.baca skala vertikalnya.
15)    Buka skala vertikal, putar teropong agar sensor berada diatas (up). Gerakkan teropong sampai angak digitalnya 0,00… Catat waktunya dan skala vertikalnya.
16)    Ukur lagi Titik Tetap yang berupa kubah masjid (TT akhir), skala pembacaan sama/ hampir sama dengan pembacaan awal atau harganya mendekati (kalau bergeser hanya sedikit).

Just other quotes

Jangan pernah menunda - nunda sesuatu hal... karena kesussesan juga akan menunda untuk menghampiri dirimu

Magnitudo Gempa Bumi from http://yusufhaidarali30.wordpress.com/


Magnitudo gempa adalah sebuah besaran yang menyatakan besarnya energi seismik yang dipancarkan oleh sumber gempa. Besaran ini akan berharga sma, meskipun dihitung dari tempat yang berbeda. Skala yang kerap digunakan untuk menyatakan magnitudo gempa ini adalah Skala Richter (Richter Scale). Secara umum, magnitudo dapat dihitung menggunakan formula  M = (log a/T) + f ( delta, h) + Cs + CR
dimana
• M adalah magnitudo, adalah amplitudo gerakan tanah (dalam mikrometer)
• Tadalah periode gelombang
• delta adalah jarak pusat gempa atau episenter
• h adalah kedalaman gempa
• Cs
• CR adalah faktor koreksi yang bergantung pada kondisi lokal & regional daerahnya
Konsep “Magnitude Gempabumi” sebagai skala kekuatan relatif hasil dari pengukuran fase amplitude dikemukakan pertama kali oleh K. Wadati dan C. Richter sekitar tahun 1930 (Lay. T and Wallace. T.C,1995).
Kekuatan gempabumi dinyatakan dengan besaran Magnitude dalam skala logaritma basis 10. Suatu harga Magnitude diperoleh sebagai hasil analisis tipe gelombang seismik tertentu (berupa rekaman getaran tanah yang tercatat paling besar) dengan memperhitungkan koreksi jarak stasiun pencatat ke episenter.
Dewasa ini terdapat empat jenis Magnitude yang umum digunakan (Lay. T and Wallace. T.C, 1995) yaitu : Magnitude lokal, Magnitude bodi, Magnitude permukaan dan Magnitude momen.
1.1. Magnitude Lokal (ML)
Magnitude lokal (ML) pertama kali diperkenalkan oleh Richter di awal tahun 1930-an dengan menggunakan data kejadian gempabumi di daerahCalifornia yang direkam oleh Seismograf Woods-Anderson. Menurutnya dengan mengetahui jarak episenter ke seismograf dan mengukur amplitude maksimum dari sinyal yang tercatat di seismograf maka dapat dilakukan pendekatan untuk mengetahui besarnya gempabumi yang terjadi. (USGS, 2002)
Magnitude lokal mempunyai rumus empiris sebagai berikut :
Dengan: a = ML = log a + 3 log D – 2.92 amplitude getaran tanah (mm),
D = jarak Stasiun pencatat ke sumber gempabumi (km) dengan D 600 km.
Saat ini penggunaan ML sangat jarang karena pemakaian seismograf Woods-Anderson yang tidak umum. Nilai amplitudo yang digunakan untuk menghitung magnitudo lokal adalah amplitudo maximum gerakan tanah (dalam mikron) yang tercatat oleh seismograph torsi (torsion seismograph) Wood-Anderson, yang mempunyai periode natural = 0,8 sekon, magnifikasi (perbesaran) = 2800, dan faktor redaman = 0,8. Selain itu penggunaan kejadian gempabumi yang terbatas pada wilayah California dalam menurunkan persamaan empiris membuat jenis magnitude ini paling tepat digunakan untuk daerah tersebut saja. Karena itu dikembangkan jenis magnitude yang lebih tepat untuk penggunaan yang lebih luas dan umum.
ML mempunyai standard epicenter 100 km. Jadi untuk mengatasi gempa yang mempunyai episenter kurang dari atau lebih dari 100 km digunakan sistem nomograph untuk menormalisasi amplitudo bumi dekat atau jauh dari 100 km berdasarkan atenuasi energi seismik di kalifornia. Selain itu ML akan mengalami saturasi pada gempa dengan kekuatan 6,5 skala richter ke atas.
1.2. Magnitude Bodi (mb)
Terbatasnya penggunaan magnitude lokal untuk jarak tertentu membuat dikembangkannya tipe magnitude yang bisa digunakan secara luas. Salah satunya adalah mb atau magnitude bodi (Body-Wave Magnitude). Magnitude ini didefinisikan berdasarkan catatan amplitude dari gelombang P yang menjalar melalui bagian dalam bumi (Lay. T and Wallace.T.C. 1995). Secara umum dirumuskan dengan persamaan
m= log ( a / T ) + Q ( h,D ):
Dengan: a = amplitudo getaran (mm),
T = periode getaran (detik)
Q ( h,D ) = koreksi jarak D dan kedalaman h yang didapatkan dari pendekatan empiris.
Selain terdapat mb adalagi yang disebut mB , mB digunakan untuk periode panjang sedangkan mb untuk peride pendek
1.3. Magnitude Permukaan (Ms)
Selain Magnitude bodi dikembangkan pula Ms, Magnitude permukaan (Surface-wave Magnitude). Magnitude tipe ini didapatkan sebagai hasil pengukuran terhadap gelombang permukaan (surface waves). Untuk jarak D> 600 km seismogram periode panjang (long-period seismogram) dari gempabumi dangkal didominasi oleh gelombang permukaan. Gelombang ini biasanya mempunyai periode sekitar 20 detik. Magnitudo ini juga akan mengalami saturasi pada gempa yang mempunyai kekuatan di atas 8 skala richter. Amplitude gelombang permukaan sangat tergantung pada jarak D dan kedalaman sumber gempa h. Gempabumi dalam tidak menghasilkan gelombang permukaan, karena itu persamaan Ms tidak memerlukan koreksi kedalaman. Magnitude permukaan mempunyai bentuk rumus sebagai berikut
Ms = log a + a log D + b :
Dengan: a = amplitude maksimum dari pergeseran tanah horisontal pada periode 20 detik,
D = Jarak (km),
(a dan b adalah koefisien dan konstanta yang didapatkan dengan pendekatan empiris. Persamaan ini digunakan hanya untuk gempa dengan kedalaman sekitar 60 km).
Hubungan antara Ms dan mb dapat dinyatakan dalam persamaan :
mb = 2.5 + 0.63 Ms atau Ms = 1.59 mb – 3.97
1.4. Magnitude Momen (Mw)
Kekuatan gempabumi sangat berkaitan dengan energi yang dilepaskan oleh sumbernya. Pelepasan energi ini berbentuk gelombang yang menjalar ke permukaan dan bagian dalam bumi. Dalam penjalarannya energi ini mengalami pelemahan karena absorbsi dari batuan yang dilaluinya, sehingga energi yang sampai ke stasiun pencatat kurang dapat menggambarkan energi gempabumi di hiposenter.
Berdasarkan Teori Elastik Rebound diperkenalkan istilah momen seismik (seismic moment). Momen seismik dapat diestimasi dari dimensi pergeseran bidang sesar atau dari analisis karakteristik gelombang gempabumi yang direkam di stasiun pencatat khususnya dengan seismograf periode bebas (broadband seismograph).
Mo = µ D A
Dengan: Mo = momen seismik,
µ = rigiditas,
D = pergeseran rata-rata bidang sesar,
A = area sesar.
Secara empiris hubungan antara momen seismik dan magnitude permukaan dapat dirumuskan sebagai berikut:
log Mo = 1.5 Ms + 16.1
Ms = magnitude permukaan (Skala Richter)
Kanamori (1997) dan Lay. T and Wallace. T. C, (1995) memperkenalkan Magnitude momen (moment magnitude) yaitu suatu tipe magnitude yang berkaitan dengan momen seismik namun tidak bergantung dari besarnya magnitude permukaan :
Mw = ( log Mo / 1.5 ) – 10.73
Dengan: Mw = magnitude momen,
Mo = momen seismik.
Meskipun dapat menyatakan jumlah energi yang dilepaskan di sumber gempabumi dengan lebih akurat, namun pengukuran magnitude momen lebih komplek dibandingkan pengukuran magnitude ML, Ms dan mb. Karena itu penggunaannya juga lebih sedikit dibandingkan penggunaan ketiga magnitude lainnya (Lay. T and Wallace. T. C, 1995).
1.5. Magnitude Durasi (MD)
Menurut Lee dan Stewart, (1981) sejak tahun 1972, studi mengenai kekuatan gempabumi dikembangkan pada penggunaan durasi sinyal gempabumi untuk menghitung magnitude bagi kejadian gempa yste, diantaranya oleh Hori (1973), Real dan Teng (1973), Herrman (1975), Bakum dan Lindh (1977), Gricom dan Arabasz (1979), Johnson (1979) dan Suteau dan Whitcomb (1979). Maka diperkenalkan Magnitude Durasi (Duration Magnitude) yang merupakan fungsi dari total durasi sinyal ystem . (Massinon, B, 1986). Magnitudo Durasi (MD) untuk suatu stasiun pengamat persamaannya adalah :
MD = a1 + a2 log t + a3D + a4 h …………………….(4.1-9)
Dengan: MD = ystem de durasi,
t = durasi sinyal (detik),
D = jarak episenter (km),
h = kedalaman hiposenter (km)
a1,a2,a3, dan a4 adalah konstante empiris.
Magnitude durasi sangat berguna dalam kasus sinyal yang sangat besar amplitudenya (off-scale) yang mengaburkan jangkauan dinamis ystem pencatat sehingga memungkinkan terjadinya kesalahan pembacaan apabila dilakukan estimasi menggunakan ML (Massinon. B, 1986).
sumber : (buku pengetahuan seismologi SuBardjo and  Gunawan Ibrahim – BMKG)

;;